Wednesday, May 9, 2012

[Ocehan] My Baby My Rules!!

Beberapa hari lalu menyimak penuturan seorang teman tentang keleluasaan finansial antara perempuan lajang dengan perempuan yang sudah bersuami di twitland. Sampai akhirnya merambat pada perempuan yang berperan ganda, sebagai peran sebagai pekerja dan juga peran yang tak bisa dilepaskan yaitu sebagai istri dan juga ibu (kalau sudah memiliki anak). 

Aku tak banyak berkomentar, hanya mengikuti saja sebagai bahan pemikiran juga, hingga ketika aku mau menutup twitter sempat menuliskan bahwa semuanya tergantung dari pilihan perempuan itu sendiri, tentang mana yang akan dia prioritaskan. Dalam kalimat tersebut mungkin sepertinya perempuan (khususnya yang bekerja) harus memilih, antara memprioritaskan keluarga atau pekerjaan. Tapi mungkin tidak seekstrim itu, karena ketika ia menikah dan akhirnya melahirkan seorang anak maka menjadi seorang istri dan ibu itu sudah bukan pilihan lagi kan? Yang menjadi pilihan adalah hal lain selain itu.

Jadi bukan berarti perempuan yang bekerja tidak memprioritaskan keluarganya, kan? Ya hanya saja ketika ia bekerja, ia benar-benar harus profesional dengan mengesampingkan hal lain diluar pekerjaannya. Karena seorang ibu yang bekerja pasti memiliki alasannya sendiri, mungkin dengan bekerja ia ingin nantinya apa yang diberikan untuk anaknya adalah yang terbaik. 

Nah, sampai disitu kemudian ada sesuatu yang mengganggu aku. Hal itu karena ada seseorang yang mengatakan "kamu sih nggak kerja, jadi nggak tau capeknya jadi supermom... yang harus bekerja tapi juga harus ngurus suami dan anak juga!" #JLEB!!

Penuturan itu keluar dari seseorang ketika aku coba menyemangati dia untuk memompa ASInya, supaya anaknya nggak sampe kenal yang namanya susu formula, setidaknya sampai 6bulan pertama. Waktu itu aku langsung terdiam, mungkin caraku menyemangatinya salah. Itu aja pikiranku, walau dalam hati juga akhirnya aku memutuskan untuk nggak akan lagi ngomongin masalah ASI atau pemberian terbaik untuk anak dengan dia. Karena sepertinya pemikiran aku dan dia berbeda, jadi mending menghindari perdebatan yang sepertinya tak akan ada selesainya.

Hanya saja aku jadi mikir, apakah bekerja akhirnya bisa dijadikan alasan untuk seseorang ibu (istilah kasarnya) mencabut hak anak untuk memperoleh ASI eksklusif? Katanya ia bekerja untuk agar nantinya mampu memberi yang terbaik untuk anaknya, lah tetapi ini dari kecil aja udah nggak bisa ngasih yang terbaik... kan jadinya aneh... Karena terbaik kan nggak semua diukur dari materi. >,<

Aku sebenernya salut dengan para supermom yang selain menjadi ibu mereka juga bekerja (entah itu karena suatu keharusan atau memang pilihan mereka sendiri), terlebih karena aku sendiri memiliki banyak teman yang bekerja dan mau bersusah payah memerah ASInya pada malam hari ketika anak mereka sudah tertidur atau pada saat mereka istirahat siang dari bekerja agar kebutuhan ASI anaknya tetap tercukupi. Membeli semua perlengkapan tempur untuk memerah yang ternyata nggak murah, mencari cara terbaik agar ASI tetap bisa mengalir deras saat diperah... ah... pokoknya ribet dech, aku aja yang baru mulai memerah saat Baby Zi mulai MPASI untuk kebutuhan campuran MPASInya aja ngerasain ribetnya.

Tapi ketika seseorang mengatas namakankerjaan untuk kemudian menjadikannya alasan meninggalkan kewajibannya yang lain... ah... rasanya gimanaaaaa gitu... >,<

Ya.... sudah lah ya... >,< kembali lagi aja ke quotes "my baby my rules!!" :D

Sebegitu seriusnya kalo ama buku ^.^

Monday, April 16, 2012

[Ocehan] Meribetkan diri.

Tanggal 9 April kemaren Baby Zi resmi berusia 6 bulan, dan memulai makan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Sebenernya emaknya nggak sabarnya udah mulai dari awal bulan, tapi kudu nahan diri... pokoknya harus 6 bulan pas ASI Eksklusifnya!! Jadi emaknya juga Baby Zi layak dikatakan lulus S1 :)) hebatkan kecil-kecil dah lulus S1. Semoga bisa sampe S2 (program ASIX 1thn) dan harus bisa S3 (program ASIX 2thn).

Sebenernya emaknya ini udah mulai dari Baby Zi 4 bulan mulai cari tahu tentang MPASI... jadinya udah kebayang sie apa aja yang akan pertama dikasih. Tapi tetep aja ya... ada sedikit rasa was-was... takut kalo Baby Zi nggak doyan atau susah ntar makannya, atau gimana ntar kalo efek ke pencernaan Baby Zi ternyata nggak baik >,<

Tapi bertekad, jalani aja dulu dan siap tanya sana sini (khususnya ke dokter sie, biar nggak makin salah) kalau ada sesuatu yang kurang sreg di hati. Jadi mendekati hari H, udah mulai siapin semua peralatan tempur. :) Mulai cari tempat beli buah yang bagus... yang buahnya seger, soalnya kadang beli di swalayan juga nggak menjamin buah itu fresh kan.. mending di pasar tradisional, bisa nawar pula hihihi :)

Dan alhamdulillah semua berjalan lancar, walau awalnya terasa ribet atau lebih tepatnya meribetkan diri sendiri ^^ Setelah mengenalkan 2 macam buah selama 6 hari kemarin, yaitu pisang dan pepaya... ternyata baby Zi lebih lahap makan pisang daripada pepaya. Kaya' emaknya hahahaha ^^




Monday, April 2, 2012

[Rangkai kata] Mimpi!

Tetiba memimpikannya!

Terbangun dengan perasaan aneh hanya karena sebuah mimpi. Sebenarnya mimpi bukanlah sebuah hal yang aneh, walau tidak setiap kali tidur saya bermimpi, tapi... ya sekali dua kali saya pernah bermimpi. 
Tapi pagi tadi saat udara dingin coba membangunkan dengan menyusup disela-sela pembungkus tubuh dan menggelitik pori-pori, saya terbangun dengan perasaan yang aneh. Aneh karena saya memimpikannya. 
Ya, dia yang bahkan mungkin tidak akan hadir dalam ingatan saya pagi ini jika bukan karena mimpi itu. Dia, yang seiring berjalannya waktu mampu saya letakkan diujung lipatan memori yang memungkinkannya untuk tidak tersentuh sekali saja. Tetapi, mimpi itu... entahlah seakan mendorongnya keluar tanpa bisa saya cegah.

Gigil tubuh karena udara dingin memaksa saya untuk bangun, juga memberi kesempatan saya untuk menyisihkan memori tentangnya juga tentang mimpi itu. Berharap, dalam waktu yang singkat mimpi itu akan terlupa dan ingatan tentang dia kembali pada tempatnya semula, tak terjangkau... kecuali saya memang ingin menjangkaunya.

Namun ternyata harapan itu belum menemukan nyatanya, karena ketika semua kerja sudah terselesaikan dan sendiri menjadi saat yang menenangkan, kini mimpi itu ikut menemani bersama dengan memori yang seakan mau tak mau mengikuti.
Hingga seorang teman berkata, mungkin tanpa disadari... kamu merindukannya!
Deg! Detak jantung seakan berhenti seper sekian saat. Merindukannya?
Bagaimana mungkin aku merindukan orang yang terlupa seiring berjalannya waktu.
Atau ternyata kemarin, aku hanya pura-pura lupa hingga mimpi itu seakan melepas topeng kepuraanku. 

Ah... dia. Yang seharusnya tak lagi ada dalam bilik rinduku. Tapi saya, juga tak dapat mengatur mimpi, kan?